Sunday, 25 September 2016

Dasar-Dasar Penginderaan Jauh


Nama    : Vidya Octaverina
NPM     : E1I015026
Kelas     : A
Prodi     : Ilmu Kelautan
Dosen    : Yar Johan, S.Pi. M.Si.


1. Sebutkan nama parameter pengukur beserta cara pemakaian, kecuali suhu!
a. Alat ukur salinitas
    - Salinometer
Salinometer adalah alat untuk mengukur salinitas dengan cara mengukur kepadatan dari air yang akan dihitung salinitasnya. Bekerjanya berdasarkan daya hantar listrik,semakin besar salinitas semakin Besar pula daya hantar listriknya. cara penggunaan :
1. Ambil gelas ukur yang panjang, isi dengan air sampel yang akan diukur salinitasnya.
2. Salinitas akan terbaca pada skalanya.







    - Refraktometer

1. Tetesi refraktometer dengan aquadest .
2. Bersihkan dengan kertas tisyu sisa aquadest yang tertinggal.
3. Teteskan air sampel yang ingin diketahui salinitasnya.
4. Lihat ditempat yang bercahaya.
5. Akan tampak sebuah bidang berwarna biru dan putih.
6. Garis batas antara kedua bidang itulah yang menunjukan salinitasnya.
7. Bilas kaca prisma dengan aquades, usap dengan tisyu dan simpan refraktometer di tempat kering.


c. Alat ukur tekanan

    - CTD (Conductivity Temperature Depth)
1. CTD diturunkan ke kolom perairan  menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar, kemudian ditarik kembali ke permukaan. 
2. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atauquartz crystal.
3. Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. 
4. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas. 
5. Pengukuran data tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung.




Daftar Pustaka :
http://id.wikihow.com/Mengukur-Salinitas
http://rahayu-putrysantoso.blogspot.co.id/2012/03/alat-pengukur-salinitas-tekanandan-suhu.html


#IlmuKelautan#UniversitasBengkulu#IKL#UNIB

Saturday, 24 September 2016

Ekosistem Pesisir dan Laut

KUIS 2
Nama   :
NPM    : E1I015026
Kelas    : A
Prodi    : Ilmu Kelautan
Dosen   : Yar Johan, S.Pi. M.Si.




1. Apa yang dimaksud dengan ekosistem mangrove ?
     Ekosistem Mangrove adalah sebuah lingkungan dengan ciri khusus dimana lantai hutannya digenangi oleh air dimana salinitas juga fluktuasi permukaan air tersebut sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Atau ekosistem yang khas yang hidupnya di wilayah pasang surut air laut.

2. Apa fungsi mangrove ?
1. Penstabilkangaris  pantai
2. Menjernihkan air, penahan lumpur dan perangkap sedimen
3. Peredam gelombang dan angin badai
4. Mengawali rantai makanan
5. Melindungi dan memberi nutrisi (nursery dan spawning)
6. Pemasok larva ikan, udang, dan biota laut lainnya.
7. Sebagai tempat pariwisata

8. Mencegah erosi dan abrasi pantai


3. Apa saja jenis-jenis atau spesies mangrove ?

Acanthus
 ebracteatus, deskripsi : 
  • Hampir sama dengan A. ilicifolius, tetapi seluruh bagiannya lebih kecil.
  • Daun : Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi seperti A. ilicifolius. Unit & Letak: Sederhana, berlawanan. Bentuk: lanset. Ujung: meruncing. Ukuran: 7-20 x 4-10 cm.
  • Bunga : Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah, kadang agak putih di bagian ujungnya. Panjang tandan bunga lebih pendek dari A. ilicifolius, sedangkan bunganya sendiri 2-2,5 cm. Bunga hanya mempunyai satu pinak daun utama, karena yang sekunder biasanya cepat rontok. Letak: di ujung. Formasi: bulir.
  • Buah : Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Ukuran: Buah panjang 2,5- 3 cm, biji 5-7 mm.
Acanthus
 ilicifolius
  • Herba rendah, terjurai di permukaan tanah, kuat, agak berkayu, ketinggian hingga 2m. Cabang umumnya tegak tapi cenderung kurus sesuai dengan umurnya. Percabangan tidak banyak dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. Akar udara muncul dari permukaan bawah batang horizontal.
  • Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Permukaan daun halus, tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Unit & letak: sederhana, berlawanan. Bentuk: lanset lebar. Ujung: meruncing dan berduri tajam. Ukuran: 9-30 x 4-12 cm.
  • Bunga : Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung, kadang agak putih. Panjang tandan bunga 10-20 cm, sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Bunga memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. Pinak daun tersebut tetap menempel seumur hidup pohon. Letak: di ujung. Formasi: bulir.
  • Buah : Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat. Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Ukuran: buah panjang 2,5- 3 cm, biji 10 mm.
  • Ekologi : Biasanya pada atau dekat mangrove, sangat jarang di daratan. Memiliki kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat, yang memiliki kemampuan untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang horizontal, sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. Bunga kemungkinan diserbuki oleh burung dan serangga. Biji tertiup angin, sampai sejauh 2 m. Di Bali berbuah sekitar Agustus.

    Acrostichum
     aureum
    • Ferna berbentuk tandan di tanah, besar, tinggi hingga 4 m. Batang timbul dan lurus, ditutupi oleh urat besar. Menebal di bagian pangkal, coklat tua dengan peruratan yang luas, pucat, tipis ujungnya,bercampur dengan urat yang sempit dan tipis.
    • Daun : Panjang 1-3 m, memiliki tidak lebih dari 30 pinak daun. Pinak daun letaknya berjauhan dan tidak teratur. Pinak daun terbawah selalu terletak jauh dari yang lain dan memiliki gagang yang panjangnya 3 cm. Ujung daun fertil berwarna coklat seperti karat. Bagian bawah dari pinak daun tertutup secara seragam oleh sporangia yang besar. Ujung pinak daun yang steril dan lebih panjang membulat atau tumpul dengan ujung yang pendek. Duri banyak, berwarna hitam. Peruratan daun menyerupai jaring. Sisik yang luas, panjang hingga 1 cm, hanya terdapat di bagian pangkal dari gagang, menebal di bagian tengah. Spora besar dan berbentuk tetrahedral.
    • Ekologi : Ferna tahunan yang tumbuh di mangrove dan pematang tambak, sepanjang kali dan sungai payau serta saluran. Tingkat toleransi terhadap genangan air laut tidak setinggi A.speciosum. Ditemukan di bagian daratan dari mangrove. Biasa terdapat pada habitat yang sudah rusak, seperti areal mangrove yang telah ditebangi yang kemudian akan menghambat tumbuhan mangrove untuk beregenerasi. Tidak seperti A.speciosum, jenis ini menyukai areal yang terbuka terang dan disinari matahari.
    Barringtonia
     asiatica, Bruguiera cylindrica
    • Deskripsi : Pohon selalu hijau, berakar lutut dan akar papan yang melebar ke samping di bagian pangkal pohon, ketinggian pohon kadang-kadang mencapai 23 meter. Kulit kayu abu-abu, relatif halus dan memiliki sejumlah lentisel kecil.
    • Daun : Permukaan atas daun hijau cerah bagian bawahnya hijau agak kekuningan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips. Ujung: agak meruncing. Ukuran: 7-17 x 2-8 cm.
    • Bunga : Bunga mengelompok, muncul di ujung tandan (panjang tandan: 1-2 cm). Sisi luar bunga bagian bawah biasanya memiliki rambut putih. Letak: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Formasi: di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga. Daun Mahkota: putih, lalu menjadi coklat ketika umur bertambah, 3- 4 mm. Kelopak Bunga: 8; hijau kekuningan, bawahnya seperti tabung.
    • Buah : Hipokotil (seringkali disalah artikan sebagai “buah”) berbentuk silindris memanjang, sering juga berbentuk kurva. Warna hijau didekat pangkal buah dan hijau keunguan di bagian ujung. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga. Ukuran: Hipokotil: panjang 8-15 cm dan diameter 5-10 mm.
    • Ekologi : Tumbuh mengelompok dalam jumlah besar, biasanya pada tanah liat di belakang zona Avicennia, atau di bagian tengah vegetasi mangrove kearah laut. Jenis ini juga memiliki kemampuan untuk tumbuh pada tanah/substrat yang baru terbentuk dan tidak cocok untuk jenis lainnya. Kemampuan tumbuhnya pada tanah liat membuat pohon jenis ini sangat bergantung kepada akar nafas untuk memperoleh pasokan oksigen yang cukup, dan oleh karena itu sangat responsif terhadap penggenangan yang berkepanjangan. Memiliki buah yang ringan dan mengapung sehinggga penyebarannya dapat dibantu oleh arus air, tapi pertumbuhannya lambat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.
    • Penyebaran : Asia Tenggara dan Australia, seluruh Indonesia, termasuk Irian Jaya.
    Bruguiera
     exaristata  
    • Deskripsi : Semak atau pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 10 m. Kulit kayu berwarna abu-abu tua, pangkal batang menonjol, dan memiliki sejumlah besar akar nafas berbentuk lutut.
    • Daun : Permukaan atas daun berwarna hitam, bagian bawah memiliki bercak-bercak, tepi daun sering tergulung ke dalam. Unit & letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 5,5-11,5 x 2,5 x4,5 cm.
    • Bunga : Bunga hijau-kekuningan, tepi daun mahkota memiliki rambut berwarna putih dan kemudian akan rontok. Letak: di ketiak daun, menggantung. Formasi: soliter. Daun mahkota: 8-10; panjang 10-13 mm. Kelopak bunga: 8-10; panjang 10-15 mm.
    • Buah : Hipokotil berbentuk tumpul, silindris agak menggelembung. Ukuran: Hipokotil: panjang 5-7 cm dan diameter 6-8 mm
    • Ekologi : Tumbuh di sepanjang jalur air atau menuju bagian belakang lokasi mangrove. Kadang-kadang ditemukan suatu kelompok yang hanya terdiri dari jenis tersebut. Substrat yang cocok adalah tanah liat dan pasir. Toleran terhadap salinitas yang tinggi. Hipokotil relatif kecil dan mudah tersebar oleh pasang surut atau banjir. Anakan tumbuh tidak baik di bawah lindungan. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun.
    • Penyebaran : Penyebaran terbatas. Diketahui dari Timor, Irian Jaya Selatan dan Australia Utara.
    Bruguiera
     gymnorrhiza  
    • Deskripsi : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Kulit kayu memiliki lentisel, permukaannya halus hingga kasar, berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon, juga memiliki sejumlah akar lutut.
    • Daun : Daun berkulit, berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips sampai elips-lanset. Ujung: meruncing Ukuran: 4,5-7 x 8,5-22 cm.
    • Bunga : Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm. Letak: di ketiak daun, menggantung. Formasi: soliter. Daun Mahkota: 10-14; putih dan coklat jika tua, panjang 13-16 mm. Kelopak Bunga: 10-14; warna merah muda hingga merah; panjang 30-50.
    • Buah : Buah melingkar spiral, bundar melintang, panjang 2-2,5 cm. Hipokotil lurus, tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. Ukuran: Hipokotil: panjang 12-30 cm dan diameter 1,5-2 cm.
    • Ekologi : Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai, serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Tumbuh di areal dengan salinitas rendah dan kering, serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove, sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya. Substrat-nya terdiri dari lumpur, pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut, hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Bunga relatif besar, memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan, tergantung, dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan.
    • Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka, Malaysia dan Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis.
    Bruguiera hainessii 

    • Deskripsi : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian mencapai 30 meter dan batang berdiameter sekitar 70 cm. Kulit kayu berwarna coklat hingga abu-abu, dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak.
    • Daun : Daun berkulit, berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan di bawahnya. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips sampai bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 9-16 x 4-7 cm.
    • Bunga : Letak: Di ujung atau ketiak tangkai/tandan bunga (panjang tandan: 18-22 cm). Formasi: kelompok (2-3 bunga per tandan. Daun Mahkota: putih, panjang 7-9 mm. Berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Kelopak Bunga: 10; hijau pucat; bagian bawah berbentuk tabung, panjangnya 5 mm.
    • Buah : Hipokotil berbentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Ukuran: Hipokotil: panjang 9 cm dan diameter 1 cm.
    • Ekologi : Tumbuh di tepi daratan hutan mangrove pada areal yang relatif kering dan hanya tergenang selama beberapa jam sehari pada saat terjadi pasang tinggi.
    • Penyebaran : Dari India hingga Burma, Thailand, Malaysia, seluruh Indonesia dan Papua New Guinea.
    Bruguiera
     parviflora 
    • Deskripsi : Berupa semak atau pohon kecil yang selalu hijau, tinggi (meskipun jarang) dapat mencapai 20 m. Kulit kayu burik, berwarna abu-abu hingga coklat tua, bercelah dan agak membengkak di bagian pangkal pohon. Akar lutut dapat mencapai 30 cm tingginya.
    • Daun : Terdapat bercak hitam di bagian bawah daun dan berubah menjadi hijaukekuningan ketika usianya bertambah. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips. Ujung: meruncing. Ukuran: 5,5-13 x 2-4,5 cm.
    • Bunga : Bunga mengelompok di ujung tandan (panjang tandan: 2 cm). Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (3-10 bunga per tandan). Daun mahkota: 8; putihhijau kekuningan, panjang 1,5-2mm. Berambut pada tepinya. Kelopak Bunga: 8; menggelembung, warna hijau kekuningan; bagian bawah berbentuk tabung, panjangnya 7-9 mm.
    • Buah : Buah melingkar spiral, panjang 2 cm. Hipokotil silindris, agak melengkung, permukaannya halus, warna hijau kekuningan. Ukuran: Hipokotil: panjang 8- 15 cm dan diameter 0,5-1 cm.
    • Ekologi : Jenis ini membentuk tegakan monospesifik pada areal yang tidak sering tergenang. Individu yang terisolasi juga ditemukan tumbuh di sepanjang alur air dan tambak tepi pantai. Substrat yang cocok termasuk lumpur, pasir, tanah payau dan bersalinitas tinggi. Di Australia, perbungaan tercatat dari bulan Juni hingga September, dan berbuah dari bulan September hingga Desember. Hipokotilnya yang ringan mudah untuk disebarkan melalui air, dan nampaknya tumbuh dengan baik pada areal yang menerima cahaya matahari yang sedang hingga cukup. Bunga dibuahi oleh serangga yang terbang pada siang hari, seperti kupu-kupu. Daunnya berlekuk-lekuk, yang merupakan ciri khasnya, disebabkan oleh gangguan serangga. Dapat menjadi sangat dominan di areal yang telah diambil kayunya (misalnya Karang Gading-Langkat Timur Laut di Sumatera Utara; Giesen & Sukotjo, 1991).
    • Penyebaran : Dari India, Seluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) hingga Australia utara.
    Bruguiera sexangula 
    • Deskripsi : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang mencapai 30 m. Kulit kayu coklat muda-abu-abu, halus hingga kasar, memiliki sejumlah lentisel berukuran besar, dan pangkal batang yang membengkak. Akar lutut, dan kadangkadang akar papan.
    • Daun : Daun agak tebal, berkulit, dan memiliki bercak hitam di bagian bawah. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips. Ujung: meruncing. Ukuran: 8-16 x 3-6 cm.
    • Bunga : Letak: Di ketiak daun. Formasi: soliter (1 bunga per tandan). Daun makhota: 10-11; putih dan kecoklatan jika tua, panjang 15mm. Kadang berambut halus pada tepinya. Kelopak bunga: 10-12; warna kuning kehijauan atau kemerahan atau kecoklatan; panjang tabung 10-15 mm.
    • Buah : Hipokotil menyempit di kedua ujung. Ukuran: Hipokotil: panjang 6-12 cm dan diameter 1,5 cm.
    • Ekologi : Tumbuh di sepanjang jalur air dan tambak pantai, pada berbagai tipe substrat yang tidak sering tergenang. Biasanya tumbuh pada kondisi yang lebih basah dibanding B. gymnorrhiza. Kadang-kadang terdapat pada pantai berpasir. Toleran terhadap kondisi air asin, payau dan tawar. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunganya yang besar diserbuki oleh burung. Hipokotil disebarkan melalui air.
    Rhizophora

     apiculata  
    • Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter, dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah.
    • Daun : Berkulit, warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips menyempit. Ujung: meruncing. Ukuran: 7-19 x 3,5-8 cm.
    • Bunga : Biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Letak: Di ketiak daun. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4; kuning-putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11 mm. Kelopak bunga: 4; kuning kecoklatan, melengkung. Benang sari: 11-12; tak bertangkai.
    • Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir, warna coklat, panjang 2-3,5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil silindris, berbintil, berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm.
    • Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh lambat, tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun.
    • Penyebaran : Sri Lanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik.
    Rhizophora mucronata 
    • Pohon dengan ketinggian mencapai 27 m, jarang melebihi 30 m. Batang memiliki diameter hingga 70 cm dengan kulit kayu berwarna gelap hingga hitam dan terdapat celah horizontal. Akar tunjang dan akar udara yang tumbuh dari percabangan bagian bawah.
    • Daun : Daun berkulit. Gagang daun berwarna hijau, panjang 2,5-5,5 cm. Pinak daun terletak pada pangkal gagang daun berukuran 5,5-8,5 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips melebar hingga bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 11-23 x 5-13 cm.
    • Bunga : Gagang kepala bunga seperti cagak, bersifat biseksual, masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2,5-5 cm. Letak: di ketiak daun. Formasi: Kelompok (4-8 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4;putih, ada rambut. 9 mm. Kelopak bunga: 4; kuning pucat, panjangnya 13-19 mm. Benang sari: 8; tak bertangkai.
    • Buah : Buah lonjong/panjang hingga berbentuk telur berukuran 5-7 cm, berwarna hijaukecoklatan, seringkali kasar di bagian pangkal, berbiji tunggal. Hipokotil silindris, kasar dan berbintil. Leher kotilodon kuning ketika matang. Ukuran: Hipokotil: panjang 36-70 cm dan diameter 2-3 cm.
    • Ekologi : Di areal yang sama dengan R.apiculata tetapi lebih toleran terhadap substrat yang lebih keras dan pasir. Pada umumnya tumbuh dalam kelompok, dekat atau pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai, jarang sekali tumbuh pada daerah yang jauh dari air pasang surut. Pertumbuhan optimal terjadi pada areal yang tergenang dalam, serta pada tanah yang kaya akan humus. Merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang paling penting dan paling tersebar luas. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Anakan seringkali dimakan oleh kepiting, sehingga menghambat pertumbuhan mereka. Anakan yang telah dikeringkan dibawah naungan untuk beberapa hari akan lebih tahan terhadap gangguan kepiting. Hal tersebut mungkin dikarenakan adanya akumulasi tanin dalam jaringan yang kemudian melindungi mereka.
    • Penyebaran :Afrika Timur, Madagaskar, Mauritania, Asia tenggara, seluruh Malaysia dan Indonesia, Melanesia dan Mikronesia. Dibawa dan ditanam di Hawaii.
    Rhizophora stylosa  
    • Pohon dengan satu atau banyak batang, tinggi hingga 10 m. Kulit kayu halus, bercelah, berwarna abu-abu hingga hitam. Memiliki akar tunjang dengan panjang hingga 3 m, dan akar udara yang tumbuh dari cabang bawah.
    • Daun :Daun berkulit, berbintik teratur di lapisan bawah. Gagang daun berwarna hijau, panjang gagang 1-3,5 cm, dengan pinak daun panjang 4-6 cm. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk: elips melebar. Ujung: meruncing. Ukuran: meruncing.
    • Bunga :Gagang kepala bunga seperti cagak, biseksual, masing-masing menempel pada gagang individu yang panjangnya 2,5-5 cm. Letak: di ketiak daun. Formasi: kelompok (8-16 bunga per kelompok). Daun mahkota: 4; putih, ada rambut. 8 mm. Kelopak bunga: 4; kuning hijau, panjangnya 13-19 mm. Benang sari: 8; dan sebuah tangkai putik, panjang 4-6 mm.
    • Buah :Panjangnya 2,5-4 cm, berbentuk buah pir, berwarna coklat, berisi 1 biji fertil. Hipokotil silindris, berbintil agak halus. Leher kotilodon kuning kehijauan ketika matang. Ukuran: Hipokotil: panjang 20-35 cm (kadang sampai 50 cm) dan diameter 1,5-2,0 cm.
    • Ekologi :Tumbuh pada habitat yang beragam di daerah pasang surut: lumpur, pasir dan batu. Menyukai pematang sungai pasang surut, tetapi juga sebagai jenis pionir di lingkungan pesisir atau pada bagian daratan dari mangrove. Satu jenis relung khas yang bisa ditempatinya adalah tepian mangrove pada pulau/substrat karang. Menghasilkan bunga dan buah sepanjang tahun. Kemungkinan diserbuki oleh angin.
    • Penyebaran :Di Taiwan, Malaysia, Filipina, sepanjang Indonesia, Papua New Guinea dan Australia Tropis. Tercatat dari Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Sulawesi, Sumba, Sumbawa, Maluku dan Irian Jaya.
    Terminalia catappa 
    • Pohon meluruh dengan ketinggian 10-35 m. Cabang muda tebal dan ditutupi dengan rapat oleh rambut yang kemudian akan rontok. Mahkota pohon berlapis secara horizontal, suatu kondisi yang terutama terlihat jelas pada pohon yang masih muda.
    • Daun : Sangat lebar, umumnya memiliki 6-9 pasang urat yang jaraknya berjauhan, dengan sebuah kelenjar terletak pada salah satu bagian dasar dari urat tengah. Daun berubah menjadi merah muda atau merah beberapa saat sebelum rontok, sehingga kanopi pohon tampak berwarna merah. Unit & Letak: s e d e r h a n a dan bersilangan. Bentuk: bulat telur terbalik. Ujung: membundar. Ukuran: 8- 25 x 5-14 cm (kadang panjangnya sampai 30 cm).
    • Bunga : Tandan bunga (panjangnya 8-16 cm) ditutupi oleh rambut yang halus. Bunga berwarna putih atau hijau pucat dan tidak bergagang. Sebagian besar dari bunga merupakan bunga jantan, dengan atau tanpa tangkai putik yang pendek. Letak: di ketiak daun. Formasi: bulir. Kelopak bunga: halus di bagian dalam.
    • Buah : Penampilan seperti buah almond. Bersabut dan cangkangnya sangat keras. Ukuran 5-7 cm x 4x5,5 cm. Kulit buah berwarna hijau hingga hijau kekuningan (mengkilat) di bagian tengahnya, kemudian berubah menjadi merah tua.
    • Ekologi : Sebarannya sangat luas. Tumbuh di pantai berpasir atau berkarang dan bagian tepi daratan dari mangrove hingga jauh ke darat. Penyebaran buah dilakukan melalui air atau oleh kelelawar pemakan buah. Pohon menggugurkan daunnya (ketika warnanya berubah merah) sekali waktu, biasanya dua kali setahun (di Jawa pada bulan Januari atau Februari dan Juli atau Agustus).
    • Penyebaran : Di seluruh Indonesia, tetapi agak jarang di Sumatera dan Kalimantan. Tumbuh di bagian tropis Asia, Australia Utara dan Polinesia.
     rumphii

    • Pohon tingginya dapat mencapai 6 m. Memiliki akar udara tapi tidak jelas. Kulit kayu kasar berwarna coklat dan mengelupas seperti guratan-guratan kecil dan sempit.
    • Daun :Susunan daun berpasangan (umumnya 3-4 pasang pertangkai) dan ada pula yang menyendiri. Warna hijau tua. Unit & Letak: majemuk & berlawanan. Bentuk: bulat telur-bulat memanjang. Ujung: meruncing. Ukuran: 7 x 12 cm.
    • Bunga :Terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Letak: di ketiak. Formasi: Gerombol acak. Daun mahkota: 4; krem-putih kehijauan. Kelopak bunga: 4 cuping; hijau kekuningan. Benang sari: menyatu membentuk tabung; putih krem.
    • Buah : Warna hijau, bulat seperti jambu bangkok, permukaan licin berkilauan dan di dalamnya terdapat 4-10 kepingan biji berbentuk tetrahedral. Ukuran: buah: diameter 8 cm (lebih kecil dari X. granatum).
    • Ekologi : Jenis mangrove sejati. Terdapat di pantai berpasir atau berbatu, di belakang atau sedikit di atas garis pasang tinggi.
      Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Jawa dan Bali.




    Daftar pustaka :
    http://ekosistem-ekologi.blogspot.co.id/2013/02/berkenalan-dengan-ekosistem-mangrove.html
    http://persemaian-hutankalimantan.blogspot.co.id/2012/10/jenis-jenis-pohon-mangrove-atau-bakau.html
    http://earthhour.wwf.or.id/5-manfaat-hutan-mangrove-untuk-manusia/
    http://www.cintalaut.com/2013/07/pengertian-dan-fungsi-dari-hutan.html


    #IlmuKelautan#UniversitasBengkulu#IKL#UNIB

    Dasar-Dasar Penginderaan Jauh

    KUIS 3
    Nama  : Vidya Octaverina
    NPM   : E1I015026
    Prodi   : Ilmu Kelautan
    Kelas   : A
    Dosen  : Yar Johan, S.Pi. M.Si.



    1. Apa itu penginderaan jauh? 
        Penginderaan jauh (inderaja) adalah pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat yang tidak secara fisik melakukan kontak dengan objek tersebut, atau pengukuran atau akuisisi data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat dari jarak jauh, (misalnya pesawat,  pesawat luar angkasa, satelit, kapal atau alat lain. Contoh dari penginderaan jauh antara lain satelit pengamatan bumi, satelit cuaca, dan wahana luar angkasa yang memantau planet dari orbit. 

    2. Keunggulan penginderaan jauh ?
        1. Mendapatkan data yang unik yang tidak bisa diperoleh darisarana yang lain.
        2. Mempermudah pekerjaan di lapangan.
        3. Mampu mendapatkan informasi/data dalam waktu relatif cepat dengan biaya yang murah
        4. Citra tertentu dapat menggambarkan tiga dimensi jika dilihat dengan streoskop yang                       memungkinkan pengukuran tinggi dan volume.
        5. Ketelitian citra dapat diandalkan.
        6. Daerah jangkauan citra sangat luas





    Daftar pustaka : 
    https://sainsmini.blogspot.co.id/2014/12/keunggulan-dan-keterbatasan-citra.html
    http://geo-smancis.blogspot.co.id/p/penginderaan-jauh-keunggulan-dan.html
    https://id.wikipedia.org/wiki/Penginderaan_jauh



    #IlmuKelautan#UniversitasBengkulu#IKL#Unib

    Saturday, 17 September 2016

    TUGAS EKOSISTEM PESISIR dan LAUT


    Pembagian Iklim di Dunia



    Daerah Iklim Tropis
    Salah satu pembagian wilayah iklim di dunia adalah wilayah iklim tropis. Wilayah ini terletak antara 23,5⁰ lintang selatan hingga 23,5⁰ lintang utara. Indonesia menjadi salah satu negara beriklim tropis karena Indonesia terletak antara 6⁰ LU dan 6⁰ LS. Hal ini menjadikan Indonesia menerima panas sepanjang tahun.
    Di Indonesia, iklim tropis ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan geografis Indonesia sendiri. Berada di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia, dan dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, menjadikan Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Terletak pada daerah khatulistiwa menyebabkan Indonesia memiliki rata-rata suhu harian yang relatif lebih tinggi.
    Di daerah iklim tropis terdapat hutan yang disebut sebagai hutan hujan tropis. Yaitu hutan-hutan di daerah 0-10 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan. Hutan ini merupakan hutan yang memiliki kekayaan ekologi paling kaya baik dari segi jumlah makhluk hidup maupun jenisnya. Hutan ini banyak pohon-pohon dengan kanopi yang besar.
    Daerah Iklim Subtropis
    Pembagian iklim dunia berikutnya adalah bagian dunia yang memiliki iklim subtropis. Daerah ini terletak pada 23,5⁰ hingga 35⁰ Lintang Utara dan 23,5⁰ hingga 35⁰ Lintang Selatan. Salah satu negara yang beriklim subtropis adalah Amerika Serikat.
    Negara –negara subtropis memiliki empat musim yang berbeda. Musim-musim tersebut adalah musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Keempat musim ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Musim-musim ini dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Saat matahari berada diutara, maka Belahan Bumi Utara mengalami musim semi hingga musim panas, sedangkan Belahan Bumi Selatan mengalami musim gugur hingga musim dingin. Disisi lain saat matahari berada di selatan, maka Belahan Bumi Selatan akan mengalami musim semi dan musim panas, sedangakan Belahan Bumi Utara mengalami musim gugur dan musim dingin.  
      
    Daerah Iklim Sedang
              Daerah iklim berikutnya adalah daerah dengan iklim sedang. Daerah ini terletak antara 35⁰ Lintang Utara hingga 66,5⁰ Lintang Utara dan 35⁰ Lintang Selatan hingga 66,5⁰ Lintang Selatan. Daerah ini bersinggungan langsung dengan iklim kutub sehingga banyak sekali dinamika-dinamika cuaca yang terjadi di wilayah ini baik dari angin, tekanan, hingga badai yang bisa tiba-tiba datang. 

    Daerah Iklim Kutub
               Iklim yang terakhir adalah iklim kutub atau iklim dingin.
    Daerah ini terletak diatas 66,5⁰ LU dan 66,5⁰ LS. Daerah ini selalu ditutupi salju dimana hanya lumutlah yang sanggup bertahan hidup disana. Daerah ini disebut juga daerah vegetasi tundra. saat musim dingin, wilayah kutub akan mengalami apa yang disebutdengan Polar Night yaitu dimana matahari tidak akan terbit hingga 6 bulan kedepan. Begitu juga saat musim panas, matahari akan bersinar selama 6 bulan kedepan. Namun jangan salah sangka suhu akan panas, matahari akan terbit hingga tinggi 23,5⁰  saja. Hal ini mengakibatkan suhu akan terjaga dingin. Suhu maksimum di kutub utara bisa mencapai 0⁰ Celcius dan -15⁰ Celcius di kutub selatan. Mengapa kutub Selatan lebih dingin? Karena daerah kutub selatan lebih tinggi daripada kutub utara. Hal ini mengakibatkan suhu akan turun lebih dingin daripada kutub utara.





    #IlmuKelautan#Universitas#Bengkulu#IKL#UNIB

    TUGAS EKOSISTEM PESISIR dan LAUT 

     
     Negara yang termasuk dalam Coral Reef Triangle  

             Segitiga Terumbu Karang meliputi wilayah lebih dari 6.500.000 km², dengan lebih dari 600 spesies terumbu karang dan meliputi 75% semua spesies terumbu karang yang ada di dunia. Segitiga Terumbu Karang dijadikan oleh World Wildlife Fund sebagai salah satu dari prioritas utama konservasi kehidupan maritim yang diluncurkan pada tahun 2007.
             Segitiga Terumbu Karang itu sendiri adalah istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang kaya akan terumbu karang.
     

    Thursday, 15 September 2016

    ISI DEKLARASI JUANDA


             Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja, adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.
    Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.
    Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State) yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia tapi waktu itu belum diakui secara internasional.
    Berdasarkan perhitungan 196 garis batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar ( kecuali Irian Jaya ), terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil lautt.
    Setelah melalui perjuangan yang penjang, deklarasi ini pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
    Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Penetapan hari ini dipertegas oleh Presiden Megawati dengan menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 tentang Hari Nusantara, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional tidak libur.
    Isi dari Deklarasi Juanda yang ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan:
    1. Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
    2. Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
    3. Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
      1. Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat
      2. Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan
      3. Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI




    #IlmuKelautan#Universitas#Bengkulu#IKL#UNIB

         KUIS 2    


    Nama  : Vidya Octaverina
    NPM   : E1I015026
    Prodi   : Ilmu Kelautan
    Dosen Pengampuh : Yar Johan, S. Pi. M. Si.



    1. Pengertian Oseanografi ?

        Jawab:     Oseanogfrafi adalah disiplin ilmu yang bersangkutan       dengan semua aspek dari kelautan di dunia dan samudera, termasuk sifat fisik dan kimia, kerangka geologi, serta bentuk kehidupan yang menghuni lingkungan laut.

    2. Ilmu-ilmu yang terkait dengan oseanografi ?
        Jawab: 
        a. Oseanografi Fisika : Ilmu yang mempelajari hubunngan antara sifat-sifat fisik yang terjadi dalam lautan itu sendiri dan yang terjadi antara lautan dengan atmosfer dan daratan. Ilmu mengenai ciri fisik samudera termasuk suhu, salinitas, ombak, pasang dan arus.

        b. Oseanografi Kimia : Ilmu yang berhubungan dengan reaaksi-reaksi kimia yang terjadi didalam dan didasar laut dan juga menganalisa sifat-sifat air laut, atau ilmu mengenai kimia samudera dan interaksi kimianya dengan atmosfer.

        c. Oseanografi Biologi : Ilmu yang mempelajari semua organisme-organisme yang hidup dilautan, termasuk mahluk hidup yang berukuran sangat kecil maupun besar, dan tumbuhan-tumbuhan air.

        d. Oseanografi Geologi : Ilmu yang mempelajari lautan yang telah berubah lebih dari berjuta-juta tahun yang lalu, atau ilmu mengenai geologi dasar laut termasuk lempeng tektonik seperti penelitian lapisan kerak bumi, gunung berapi, dan terjadinya gempa.

        e. Oseanografi Perikanan : Ilmu ini merupakan penggabungan antara oseanografi (fisika, kimia, geologi, biologi laut) dan perikanan, sebagai pendekatan dalam pengelolaan perikanan. Juga membahas kehidupan ikan, tingkah laku ikan, dikaitkan dengan aspek-aspek oseanografi. Beberapa aplikasi alat-alat atau metode modern seperti akustik, radar, satellite remot sending, fish tagging, dan juga climate change modelling dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.


    Daftar Pustaka : fungsi.web.id/2015/07/pengertian-oseanografi.html

                                   http://pratamapijar.blogspot.co.id/2012/06/bahan-kuliah-oceanografi.html
                                   
                                   http://syarifahsari.lecture.ub.ac.id/2014/02/materi-mk-oseanografi-perikanan-genap-20132014/




    #IlmuKelautan#UniversitasBengkulu#IKL#UNIB
    20 MIMPI BESAR

    A dream is a wish your heart makes, 
    the distance between your dreams 
    and reality is called action. 
    YES, ACTION !!!









    #IlmuKelautan#UniversitasBengkulu#IKLUnib